Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!
Welcome back readers!
Today I want tell u the lesson of filsafat dakwah about “dakwah
berbasis multikulturalisme” (kali-kali pembukaannya pake english boleh lah
yaa.. wkwk)
Okey! So, apa sih dakwah berbasis multikulturalisme itu???
Kita ketahui
sendiri bahwa problem dakwah adalah menyangkut perbedaan paham yang sering
membuat hubungan sosial antarpemeluk agama terganggu yah, bahkan dalam taraf
tertentu bisa menimbulkan kerawanan sosial. Problem perbedaan ini tidak hanya
terjadi dalam internal Islam saja, melainkan juga dalam tataran kehidupan
antarumat beragama. Faktor lain yang jadi hambatan dalam dakwah multikultural
adalah adanya fanatisme yang berlebihan terdadap pendapat pribadi dan golongan,
sehingga terjadi penolakan akan pendapat orang lain di luar kelompok atau
jamaahnya.
Pada akhirnya
Islam yang rahmatan lil alamin hanya ada dalam konsep dan tidak akan terlahir
dalam kenyataan di Indonesia yang multikultur ini. Padahal, sejarah mencatat
bahwa masuknya Islam di Nusantara dilakukan secara damai dan persuasif oleh
para da’i, bukan karena kekuatan militer atau dukungan pemerintah. Faktor lain
yang menjadi penentu keberhasilan dakwah Islam di Nusantara pada awalnya adalah
penggunaan seni, adat istiadat, dan tradisi kebudayaan setempat, maka mengupas
metode dan pendekatan dakwah yang menghargai nilai-nilai budaya masyarakat majemuk
dan multikultur dianggap penting untuk mengkaji pemikiran dan aksi dakwah yang
dilakukan.
Tahu tidak siapa
saja tokoh yang melakukan pendekatan dakwah multikultural? dakwah multikultural
adalah pengembangan dari dakwah kultural, yups.. salah satunya ada Presiden Indonesia
yang ke-4, K.H Abdurrahman Wahid atau kita kenal dengan sebutan Gusdur. Abdurrahman
Wahid menggunakan dua pendekatan yakni pendekatan struktural dan kultural dalam
berdakwah. Pendekatan struktural dia gunakan sewaktu menjadi presiden, banyak
kebijakan yang dibuat untuk melindungi dan menghargai eksistensi kelompok
minoritas seperti Komunitas Tionghua dan mengakui Konghucu menjadi agama resmi
yang diakui oleh negara. Sedangkan pendekatan kultural dia gunakan ketika
menjadi guru, aktivis organisasi, dan memimpin PBNU. Gus Dur merupakan seorang
da’i atau pendakwah yang telah menggunakan berbagai metode untuk mendakwahkan Islam.
Ungkapan ini didasarkan pada kenyataan bahwa Gus Dur aktif berceramah di
berbagai kesempatan, terutama ketika menjadi Ketua Umum Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama’ yang setiap saat berkeliling ke daerah untuk memberikan
tausiyah/ nasehat, dan wejangan.
Karena masing
sangat baru, adalah suatu ketergesa-gesaan untuk menilai sisi kelemahan atau
kelebihan dari gagasan pendekatan dakwah dengan multikulturalisme. Namun demikian,
fenomena-fenomena seperti merebaknya aliran-aliran radikal Islam, hingga
ketegangan antar peradaban dapat dinilai sebagai suatu tahap perkembangan
kemanusiaan dimana pendekatan multikultualisme menjadi suatu kebutuhan mutlak
untuk diterapkan sebagai alat dakwah agama.
Sekian dari saya, terimakasih! ~ stay healthy teman-teman!
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
#Hadapi #Hayati #Nikmati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar