Kamis, 05 November 2020

Dakwah Berbasis Multikulturalisme

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Welcome back readers!

Today I want tell u the lesson of filsafat dakwah about “dakwah berbasis multikulturalisme” (kali-kali pembukaannya pake english boleh lah yaa.. wkwk)

Okey! So, apa sih dakwah berbasis multikulturalisme itu???

            Kita ketahui sendiri bahwa problem dakwah adalah menyangkut perbedaan paham yang sering membuat hubungan sosial antarpemeluk agama terganggu yah, bahkan dalam taraf tertentu bisa menimbulkan kerawanan sosial. Problem perbedaan ini tidak hanya terjadi dalam internal Islam saja, melainkan juga dalam tataran kehidupan antarumat beragama. Faktor lain yang jadi hambatan dalam dakwah multikultural adalah adanya fanatisme yang berlebihan terdadap pendapat pribadi dan golongan, sehingga terjadi penolakan akan pendapat orang lain di luar kelompok atau jamaahnya.

            Pada akhirnya Islam yang rahmatan lil alamin hanya ada dalam konsep dan tidak akan terlahir dalam kenyataan di Indonesia yang multikultur ini. Padahal, sejarah mencatat bahwa masuknya Islam di Nusantara dilakukan secara damai dan persuasif oleh para da’i, bukan karena kekuatan militer atau dukungan pemerintah. Faktor lain yang menjadi penentu keberhasilan dakwah Islam di Nusantara pada awalnya adalah penggunaan seni, adat istiadat, dan tradisi kebudayaan setempat, maka mengupas metode dan pendekatan dakwah yang menghargai nilai-nilai budaya masyarakat majemuk dan multikultur dianggap penting untuk mengkaji pemikiran dan aksi dakwah yang dilakukan.

            Tahu tidak siapa saja tokoh yang melakukan pendekatan dakwah multikultural? dakwah multikultural adalah pengembangan dari dakwah kultural, yups.. salah satunya ada Presiden Indonesia yang ke-4, K.H Abdurrahman Wahid atau kita kenal dengan sebutan Gusdur. Abdurrahman Wahid menggunakan dua pendekatan yakni pendekatan struktural dan kultural dalam berdakwah. Pendekatan struktural dia gunakan sewaktu menjadi presiden, banyak kebijakan yang dibuat untuk melindungi dan menghargai eksistensi kelompok minoritas seperti Komunitas Tionghua dan mengakui Konghucu menjadi agama resmi yang diakui oleh negara. Sedangkan pendekatan kultural dia gunakan ketika menjadi guru, aktivis organisasi, dan memimpin PBNU. Gus Dur merupakan seorang da’i atau pendakwah yang telah menggunakan berbagai metode untuk mendakwahkan Islam. Ungkapan ini didasarkan pada kenyataan bahwa Gus Dur aktif berceramah di berbagai kesempatan, terutama ketika menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’ yang setiap saat berkeliling ke daerah untuk memberikan tausiyah/ nasehat, dan wejangan.

            Karena masing sangat baru, adalah suatu ketergesa-gesaan untuk menilai sisi kelemahan atau kelebihan dari gagasan pendekatan dakwah dengan multikulturalisme. Namun demikian, fenomena-fenomena seperti merebaknya aliran-aliran radikal Islam, hingga ketegangan antar peradaban dapat dinilai sebagai suatu tahap perkembangan kemanusiaan dimana pendekatan multikultualisme menjadi suatu kebutuhan mutlak untuk diterapkan sebagai alat dakwah agama.

Sekian dari saya, terimakasih! ~ stay healthy teman-teman!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

#Hadapi #Hayati #Nikmati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dakwah Berbasis Multikulturalisme

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh! Welcome back readers! Today I want tell u the lesson of filsafat dakwah about “dakwah berba...