Senin, 26 Oktober 2020

Strategi Dakwah Multikulturalisme

 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Hola readers! Ayolah kalian jangan bosan baca blog ini ya, bermanfaat banget tau wkwk, walaupun isinya dikit tapi setidaknya kita udah berbagi ilmu, karena kebaikan seberat biji dzarah itu bernilai tinggi dimata Allah swt. So, jangan susah berbagi kebaikan pada sesama ya! Apalagi kita belajar tentang dakwah dalam lingkupan filsafatnya.

 

            Materi kita menginjak pada dakwah multikulturalisme, Apa sih multikulturalisme itu? Oke, kita ambil kata kuncinya aja deh “multi is banyak - kultural is budaya – isme is anutan atau pemahaman” hehe paham lah yaa. Hhmmmm.. kira-kira strategi dakwah multikulturalisme itu gimana yah?

            Sebagaimana obyek multikulturalisme yang komplek, maka konsekuensinya juga membutuhkan langkah dan strategi yang juga komplek. Dakwah di manapun dan lewat madia apapun tujuannya adalah menjadi penyeimbang bagi perkembangan sosial. Maka dakwah multikulturalisme membutuhkan sinergitas antar lembaga dakwah, ormas Islam serta lembaga dakwah di bawah pemerintah dengan memperhatikan:

            Pertama, masyarakat multikultural sebagai sasaran dakwah perlu dimaknai sebagai upaya berlapang hati untuk mau menerima perbedaan dengan kelompok lain. Dakwah juga harus menghargai hak asasi manusia. Sehingga penguatan masyarakat multikultural, ditempuh dengan memperkuat ikatan-ikatan sosial berbasis kebebasan beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.

            Kedua, kelompok penganut agama yang berbeda-beda di lingkungan masyarakat, masing-masing bisa memelihara diri untuk tidak melakukan kegiatan yang bersifat propaganda agama, hubungan personal antar warga harus dibina secara terus-menerus untuk memperkuat kebersamaan dan dalam menangung beban hidup mereka.

            Ketiga, lembaga-lembaga dakwah memiliki arti penting dalam penguatan masyarakat multikutur. Sebagai institusi sosial, lembaga dakwah perlu meningkatkan kemampuannya melakukan gerakan untuk pengembangan potensi secara signifikan dalam rangka memperbaiki taraf hidup masyarakat.

            Dan keempat, keharmonisan hubungan antar individu dan antar kelompok berbeda agama, serta berbeda latar belakang budaya, etnisitas, harus dipelihara dengan baik, tanpa merasa terpaksa atau dipaksa oleh pihak lain. Dalam konteks demikian, perlu dirumuskan materi dakwah yang mengurai setiap aspek kedakwahan dengan sasaran masyarakat multikultural.

           

Sekian dari saya, terimakasih!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

#Hadapi #Hayati #Nikmati

 

Pilar Gerakan Dakwah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh! Dear friends, sehat-sehat ya kalian.. biar bisa semangat terus kuliah onlinenya walaupun bikin otak puyeng plus panas lihat layar gadget-laptop terus :D.

            Materi ke-sepuluh filsafat dakwah kita membahas tentang aliran-aliran pemikiran dan gerakan dakwah yah, nah disini aku mau mengembangkan materi dalam bahasan dakwah bil harakah nih atau kita kenal dengan dakwah yang dicampuri aksi nyata bukan hanya materi semata.

            Ada beberapa pilar dakwah bil harakah yang harus kita ketahui lho, coba deh dari sekian lamanya masa reformasi mungkinkah strategi dakwah bisa terus dipertahankan bahkan ditingkatkan peran dan fungsinya, sehingga bisa ngasih kontribusi lebih besar bagi kejayaan Islam di bumi nusantara? Jawabannya tentu saja bisa dan harus terus dikembangkan. Hanya masalahnya, apakah musuh-musuh dakwah akan berdiam diri? Banyak pihak juga kan yang pada kenyataannya tidak suka terhadap kebangkitan umat di negeri ini? Nah, oleh sebab itu berbagai cara dilakukan agar semua kaderisasi umat itu bisa dikendalikan. Masalah dan tantangan dakwah ini memang banyak, seringkali kita dihadapkan dengan merebaknya isu terorisme global, isu ekstrimisme, radikalisme, dan intolerans, pun dengan aksi-aksi kekerasan dan bom bunuh diri.

            Pilar dakwah bil harakah yang harus ditekankan untuk menghadapi masalah tersebut difokuskan pada tiga basis dakwah, yaitu Mesjid, Pesantren, dan Kampus. Tapi seperti sengaja didesain yah bahwa sejumlah besar Mesjid, Kampus, dan Pesantren juga benar benar telah terpapar paham radikal dan intoleran yang menjadi akar terorisme.  Banyak ilmuan dan sebagian guru besar yang menjadi tokoh gerakan dakwah di kampusnya mungkin tidak bisa lagi mempunyai posisi strategis mengarahkan gerakan kampus. Demikian juga para aktivis dakwah mesjid dibuat ketar-ketir mereka juga akan dipojokan dengan stigma radikal ketika menyelenggarakan dakwah yang tegas menyatakan mana yang hak dan mana yang sesat. Untuk pilar gerakan dakwah yang paling pital yaitu Pesantren, pemerintah juga telah membuat sejumlah kebijakan, dari mulai mengontrol kegiatan kurikulum pesantren, hingga menerbitkan undang-undang pesantren.

            Tentu saja, kita belum bisa memastikan kemana arah dari semua kebijakan yang mengendalikan pilar harakah dakwah Islamiyah itu. Apakah benar-benar sebuah tujuan yang luhur demi keutuhan masa depan umat, bangsa dan negara agar terhindar dari perpecahan dan disintegrasi?. Dan memang itulah yang diharapkan para aktivis dakwah, Indonesia yang bersatu, berdaulat, mandiri, adil dan makmur di bawah keridhoan Allah Swt. Karena itu kita sebagai generasi penerus bangsa dan agama patut untuk mengkaji sejauh mana fenomena berbagai kebijakan pemerintah terhadap mesjid, pesantren dan kampus. Apakah sesuatu yang memberi harapan optimistis bagi dakwah ke depan atau sebuah potensi tantangan yang bisa berdampak buruk bagi gerakan dakwah?

Wallahu A'lam Bisshawab (Referensi Dr. Jeje Zaenudin)

Sekian dari saya, terimakasih! Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

#Hadapi #Hayati #Nikmati

 

Selasa, 20 Oktober 2020

transformasi pemikiran dakwah

 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Jumpeu lagi kau bersama sayeu :D

            Sekarang bahas apaan coba? Kemarin sih belajar tentang aliran pemikiran dakwah. Hhmmm, aliran? Ekstrem dong? Ya, dipikiran kita yang namanya aliran itu pasti ekstrem, yang namanya aliran itu keluar dari syariat Islam, menyeleweng lah yaaa.. eits tapi jangan salah tidak semua aliran itu ekstrem lho ya, apalagi aliran pemikiran dakwah, this is not extreme guys.

            Mau tau apa aliran yang dimaksud? Tetap bersama ketikan nnz sambil duduk, sambil rebahan, sambil nyemil, sambil dengerin murotal, MasyaAllah .. nikmat mana lagi yang kau dustakan? Hehe, udah ya malah jadi curhat wkwk.. yo bahas aliran pemikiran dakwah.

            Okey gaes, kita tau ya sekarang itu sudah memasuki era 4.0 bahkan katanya akan dan menuju 5.0 dimana teknologi manusia akan berkurang, beralih ke teknologi sistematis, semua dikendalikan oleh mesin dan robot. Nah hal inilah yang menjadi dampak atau masalah bagi pengembangan kultural di masyarakat, konsep-konsep yang dulu dirumuskan oleh para pakar, oleh para ahlinya kan sekarang siapa yang mengaplikasikannya? Terlebih dalam konsep yang memposisikan mad’u sebagai objek dakwah dan hanya menerima apa yang disampaikan oleh mad’u tanpa adanya unsur timbal balik atau kita sebut bahasa bilogi nya simbiosis mutualisme artinya hubungan yang saling menguntungkan.

            Perkembangan zaman yang demikian ini mempengarui aktivitas dakwah pada umumnya. Pengaruh itu dapat merubah konsep dakwah yang ada, hal ini merujuk pada pola pergeseran strategi pemikiran dan gerakan konsep dakwah yang didasari oleh perkembangan tekonologi dan perkembangan globalisasi. Pada hakikatnya dakwah adalah membangun masyarakat Islam, bukan hanya sekedar mengajak untuk percaya islam, pembangunan yang dimaksud adalah membangun kualitas hidup masyarakat islam menjadi lebih baik dalam berbagai aspek.

            Dalam melaksanakan dakwah, islam tidak mengenal istilah pemaksaaan atasnya. Pemaksaan atau konversi akan menimbulkan peluang konflik agama. Perlu kita sadari dengan adanya konflik didalam agama islam yakni konflik antar aliran yang berbeda didalam agama islam merupakan wujud dakwah konversi. Hal ini didorong oleh rekontruksi konsep dakwah yakni konsep dakwah digital. Banyak karya baik secara audio maupun visual yang kontennya bersifat mengajak. Saya rasa, konsep dakwah secara digital tidak dapat sepenuhnya diterapkan di Indonesia.

            Maka kemudian, perlu adanya lembaga yang mnegkontrol aktivitas dakwah digital di Indoensia, hingga pada akhirnya turunlah beberapa jenis pemikiran dakwah, yaitu: paradigma dakwah kultural, paradigma dakwah struktural, paradigma tabligh, paradigma penngembangan masyarakat, serta paradigma harakah.

            Sekian yang dapat saya ketik kali ini, terimakasih!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

#Hadapi #Hayati #Nikmati

 

 

Metode dakwah sesuai qs an-nahl 125

 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hai readers! Kembali lagi diketikan nnz nih! Hehe.. sekarang aku mau berbagi ilmu penting banget nget nget ngeetss dan masih anget jadi materi terbaru dalam mata kuliah filsafat dakwah kemarin Senin. Yups! Metode-metode yang diambil oleh para da’i untuk mad’u. Dan ini sesuai dengan Q.S An-Nahl ayat 125, nah aku mau kasih paparan jelas tentang tafsiran ayat ini nih, aku ambil referensi full dari kitab terjemahan Ibnu Katsir. Selamat membaca! (walau agak pusing karena banyak ayat dan dalil, wkwk)

{ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (125) }

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu. Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesal dari jalan-Nya. dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

            Allah Swt. memerintahkan kepada Rasul-Nya—Nabi Muhammad Saw. agar menyeru manusia untuk menyembah Allah dengan cara yang bijaksana. Ibnu Jarir mengatakan bahwa yang diserukan kepada manusia ialah wahyu yang diturunkan kepadanya berupa Al-Qur'an, Sunnah, dan pelajaran yang baik; yakni semua yang terkandung di dalamnya berupa larangan-larangan dan kejadian-kejadian yang menimpa manusia (di masa lalu). Pelajaran yang baik itu agar dijadikan peringatan buat mereka akan pembalasan Allah Swt. (terhadap mereka yang durhaka).

Firman Allah Swt.

{وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ}

dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (An-Nahl: 125)

            Yakni terhadap orang-orang yang dalam rangka menyeru mereka diperlukan perdebatan dan bantahan. Maka hendaklah hal ini dilakukan dengan cara yang baik. yaitu dengan lemah lembut, tutur kata yang baik, serta cara yang bijak. Ayat ini sama pengertiannya dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ}

Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka. (Al-'Ankabut: 46), hingga akhir ayat.

            Allah Swt. memerintahkan Nabi Saw. untuk bersikap lemah lembut, seperti halnya yang telah Dia perintahkan kepada Musa dan Harun, ketika keduanya diutus oleh Allah Swt. kepada Fir'aun, yang kisahnya disebutkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

{فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى}

maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (Thaha: 44)

Adapun firman Allah Swt.:

{إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya. (An-Nahl: 125), hingga akhir ayat.

            Maksudnya, Allah telah mengetahui siapa yang celaka dan siapa yang berbahagia di antara mereka, dan hal tersebut telah dicatat di sisi-Nya serta telah dirampungkan kepastiannya. Maka serulah mereka untuk menyembah Allah, dan janganlah kamu merasa kecewa (bersedih hati) terhadap orang yang sesat di antara mereka. Karena sesungguhnya bukanlah tugasmu memberi mereka petunjuk. Sesungguhnya tugasmu hanyalah menyampaikan, dan Kamilah yang akan menghisab. Dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:

{إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ}

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi. (Al-Qashash: 56)

{لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ}

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk (Al-Baqarah: 272)

Itu dia gaes, tafsir dari Surah An-Nahl ayat 125 yang membicarakan tentang metode dakwah. See u in the next artichel! Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

#Hadapi#Hayati#Nikmati

Senin, 12 Oktober 2020

Dakwah perlu aktualisasi Al-Qur'an

 -Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh-

Masih bahas mad’u nih hehe, part 2 kita sambungkan disini yah!

    Di blog sebelumnya aku udah share ilmu yang disampaikan oleh Habib Ja’far kan ya. nah, sekarang waktunya aku share materi yang disampaikan oleh Pak Fakhruddin Faiz, beliau adalah dosen Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Materi beliau lebih condong kepada implementasi Al-Qur’an, menurutnya orang yang memahami Al-Qur’an seperti orang memasuki pada dirinya sesuatu, dalam artian dirinya sebagai wadah. Jika wadahnya kotor maka akan sesutu yang masuk pada wadahnya juga akan kotor dan tidak indah kan? Nah sama seperti kita dalam mengimplementasi Al-Qur’an, kalau diri kita masih kotor masih penuh akan dosa dan kesalahan toh akan susah ya untuk belajar apalagi paham akan Al-Qur’an, harus dibersihkan terlebih dahulu diri kita sebelum bertekad untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an, karena apabila hal itu telah dijalankan tentu jika kita menasihati orang itu tidak akan jauh dari Al-Qur’an.  Lalu caranya seperti apa?

Ada 4 prinsip nih teman-teman, apa saja prinsip itu?

1.      Prinsip Tazkiyah (prinsip ini untuk menghilangkan apa yang berbahaya bagi dirinya. Berarti juga dengan  mempercantik dan menghilangkan semua jejak kejahatan dan penyakit spiritual yang menjadi penghalang dalam mengalami Allah. Dikatakaan juga untuk meningkatkan dan mengembangkan menuju ketinggian kesempurnaan, dan mengubahnya ke jalan kebajikan dan kesalehan dan mengembangkannya untuk mencapai tahap kesempurnaan).

2.      Prinsip Waqi’iyyah (Al-waqi’iyyah berarti realiti dan kebenaran. Ia melibatkan ajaran islam yang bersifat praktikal sesuai dijadikan amalan di dalam kehidupan manusia. Kemusykilan dan permasalahan serta persoalan yang berlaku sepanjang proses kehidupan manusia akan dapat di selesaikan mengikuti kaedah islam bergantung kepada keadaan dan kesesuaian realiti sebenarnya. Maka islam itu di lihat sebagai fleksibel dalam menyelesaikan semua kemuskilan yang timbul bergantung kepada keadaan.

3.      Prinsip Muwazzanah (keseimbangan) sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian orang, yaitu wajib menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang sedang disanggah dan tidak boleh menyebutkan kesalahan-kesalahannya saja. Namun muwazanah yang dimaksud disini adalah dalam menghukumi seseorang, apakah termasuk Ahlus Sunnah ataukah ahli bid’ah, maka harus dibandingkan antara kebaikannya dengan kesalahannya. Jika seseorang terkenal dengan sikapnya yang mengikuti dalil dan mencintai Sunnah, kemudian terjatuh dalam satu bid’ah, maka tidak dikatakan bahwa ia adalah seorang ahli bid’ah, karena kebaikannya yang banyak.

4.      Prinsip Aulawiyyat (melihat porsi dan melihat rankingnya) memilih yang lebih utama yang mana. Mana yang nomer satu mana yang nomer dua dan seterusnya. Contohnya seperti keadaan dan kondisi kita sebagai mahasiswa. Mana yang akan didahulukan? Belajar terus-menerus di kampus? Atau berorganisasi? Atau justru menimbang hal percintaan? Wkwk, harus bisa memilih disini.

Nah itu dia keempat prinsip dalam aktualisasi atau implementasi Al-Qur’an, sehingga jika keempat prinsip tersebut diaplikasikan maka Maqhasid dalam Islam akan terwujud. Islam punya misi, Islam punya tujuan, Islam punya ideal-ideal. Dan itu semua disatukan dalam sebuah maqasid.

Sekian & terimakasih! (semoga bermanfaat ^^)

Wassalam!

#Hadapi #Hayati #Nikmati

 

transfer ilmu yang kau dapat wahai mad'u

 

-Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh-

Hello readers! Kaiff al-hall? – semoga kalian semua yang baca ketikan ini diberikan kesehatan selalu ya sama Allah swt, aamiin.

Kita kemarin belajar apa tuh di matakuliah filsafat dakwah? Masih bahas sasaran dakwah atau bisa kita sebut dengan mad’u yah?

Okey sip, beberapa hari kebelakang tepatnya hari Minggu 11 Oktober 2020 aku berada diposisi mad’u nih .. hehe. Yups! Ada kegiatan webinar yang diisi oleh Habib Husein Ja’far al-Hadar dan juga Pak Fakhruddin Faiz dalam rangka milad UKM Hiqma ke-32.

Karena beliu-beliau adalah da’i nya atau yang memberikan pesan dan juga materi, maka saya sebagai sasaran dakwahnya nih ingin berbagi ilmu-imu yang telah disampaikan oleh beliau hari Minggu kemarin. Di ketikan ini aku bagi dua ya, aku bahas materi yang telah disampaikan oleh Habib Husein dulu baru deh di ketikan blog kedua aku bahas materi yang disampaikan oleh Pak Fakhruddin. Okey! J

___  Yang aku tangkap nih ya dari webinar Habib Husein kemarin, tidak banyak sih karena terkendala oleh sinyal dan juga waktu, hehe.. tapi tidak apa-apa kan “ballighu anni walau aayat” betul? Beliau itu berbicara tentang makna akhlak atau hakikat akhlak dan juga kunci berakhlak. Habib Husein berpesan seperti ini:

“Harus kita tanamkan, akhlak itu bukan hanya etika tapi akhlak bersumber dari hati dan etika tidak harus bersumber  dari hati. Contohnya, kesopanan kita ketika bungkuk terhadap yang lebih tua, banyak orang yang dia hanya ingin dinilai sopan dia hanya bungkuk sekedar informasi belaka dari fisik atau dari badannya, nah berbeda dengan orang yang bungkuk bukan hanya badan yang digerakkan namun hatinya juga ikut merendah. Itulah akhlak yang sempurna.”

“Kita ketahui, seluruh umat Muslim tau bahwa manusia termulia adalah Nabi Muhammad saw. Bagaimana kita mencontoh Rasulullah agar mulia juga atau setidaknya bisa mengikuti akhlaknya? Nah, ketika kita ingin atau bertekad untuk mengimplementasikan akhlak yang ada pada diri Rasulullah kunci utamanya adalah latihan atau dalam tradisi sufistik dinamakan riyadhah. Kita contohkan saya dengan percintaan, tidak akan tercapai suatu kecintaan tanpa latihan, utamakan latihan cinta pada orang yang tidak mencintai kita. Hayoh lho wkwk, itu dia teman jika kita masukan dalam implementasi akhlak pun begitu, harus dibiasakan harus ada riyadhah dan jangan sampai kita menghindari berakhlak kepada orang yang tidak berakhlak kepada kita, jangan malah balas dendam :D, okey!?”

So, teman-teman semua. Jangan pernah berputus asa, mari kita sedikit demi sedikit melatih diri untuk membentuk pribadi yang penuh cinta kasih bukan hanya pada kawan tapi pada lawan dan bukan hanya pada Allah swt saja, tapi kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Sekian & terimakasih! (kita lanjut di blog selanjutnya yah, hehe)

Wassalam!

#Hadapi #Hayati #Nikmati

 

Selasa, 06 Oktober 2020

sesuaikah sasaran dakwah kita?

 Assalamu’alaikum wr.wb!

Hola readers! Welcome to my blog channel!

            Diartikel sebelumnya kan kita udah tau tuh akan visi-misi da’i dalam dakwah, nah sekarang saatnya kita terjun langsung, saatnya kita membawa visi-misi itu ke khalayak umum tepatnya biasa kita sebut sasaran dakwah atau mad’u. Muncul pertanyaan nih, mad’u seperti apa sih yang bisa kita gunakan dalam titik fokus dakwah? Tentu saja semua kalangan bisa yah mulai dari konglomerat sampai rakyat biasa, mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek semua bisa kita ambil sebagai segmentasi dakwah

            Wah kebetulan sekali nih materi ini menyangkut dengan acara webinar yang dilaksanakan oleh LdKS fidikom yang pematerinya itu adalah Kang dodi Hidayatullah, siapa coba yang gak kenal beliau? Yups, kita kenal beliau adalah salah satu personil “adam musik” ya yang sedang banyak digandrungi oleh para remaja beserta ibu-ibu wkwk.

Saya mencatat materi yang disampaikan olehnya, sungguh menarik sekali teman-teman. Ijinkan saya untuk share disini yaa..

            Okey, jadi dakwah itu butuh beberapa fase teman, utamanya kita harus mentargetkan orang-orangnya terlebih dahulu, harus sesuai dengan targeting dan segmentasinya. Kita kasih contoh deh, ketika kita memiliki target dakwah pada anak-anak milenial lalu kemudian kita memakai pakaian yang menyeramkan dan bahasa dakwah yang lebih banyak membidahkan atau mengejek bahkan menyalahkan itu seakan-akan dipandang oleh si anak bahwa Islam agama yang seram, agama yang mencekam kan!? Maka dari itulah kita sebagai da’i harus menyesuaikan dengan kondisi so disinilah pentingnya sebuah psikologi dakwah.

Oh iya, Kang dodi juga menceritakan sebuah kisah pada jaman Rasulullah saw nih dan beliau menyampaikan dengan gaya anak muda serta gaya bahasa gaul, kurang lebih seperti ini kisahnya:

            Ada seorang anak muda, masih sangat bengal. Dia masuk Islam pada saat Fathul Makkah, saat itu Rasul memerintahkan Bilal untuk adzan didekat ka’bah. Dan anak muda itu bernama Abu Mahdzurah tiba-tiba ngecengin Bilal “lah suaranya begitu amat, gue juga bisa”, lalu kemudian terdengar oleh Rasulullah dan para sahabat, dan Rasul berkata “siapa yang berkata demikian?”, seketika Abu Mahdzurah berkata dalam hatinya “wah celaka nih gue”. Akhirnya Abu Mahdzurah dipanggil oleh sahabat dan berkata “kau kan yang tadi ngecengin suara adzan bilal?”. Lalu datang Rasul dan berkata “wahai Abu Mahdzurah, maukah engkau dikemudian hari menjadi muadzin, suaramu begitu indah”.

            Nah lho teman-teman dari situ udah ketangkap belum sasaran dakwah Rasul itu seperti apa? Ya, Rasul tau bahwa segmentasi dakwahnya adalah anak muda yang masih semangat. Hingga dari apa yang disampaikan rasul itu, Abu Mahdzurahpun merasa dirinya langsung diangkat oleh Rasulullah dan akhirnya Abu Mahdzurah menjadi muadzin. Masyaallah sekali ya, dari apa yang dicontohkan oleh Rasul kita bisa ambil pelajaran bahwa kita itu adalah da’i, seorang da’i tidak dibatasi oleh profesi, karena da’i bukan profesi melainkan sebuah kewajiban.

Sekian & terimakasih! Wassalam!

#Hadapi #Hayati #Nikmati

 

 

 

 

 

Pentingnya visi dan misi dakwah

Assalamu’alaikum wr.wb!

Hola readers! Welcome to my blog channel!

            Kemarin kita semua udah diskusi dan sharing-sharing tentang visi-misi da’i lho, mau tau seberapa fokusnya sang da’i terhadap tujuan akan dakwahnya? Ya visi-misi aku artikan dengan tujuan, dimana da’i betul-betul mengemban sebuah hal besar untuk keberlangsungan hidup umat manusia terkhusus para muslimin & muslimat di muka bumi ini.

            So, sekarang aku mau sharing tentang visi-misi dakwah nya panutan kita, baginda Rasulullah saw dimana beliau lah acuan para da’i, beliau lah yang patut digugu dan ditiru. Bukan suma para da’i sebagai pengajak saja yang harus meniru Rasul, namun kita pun selaku umatnya harus menjalankan apa yang telah rasul contohkan untuk kita semua. Karena Rasul bersabda “taraktu fiikum amraini, kitaballahi wa sunnati rasuulih” rasulullah meninggalkan kepada kita/para umat atas 2 perkara yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

            Okey, sudah kalian ketahui kan kalau Rasul itu berdakwah pada jaman jahiliyah dimana jaman tersebut kebodohan merajalela tidak ada rasa kemanusiaan disana, manusia kehilangan kendali dalam hidupnya, akhalk manusia rusak dan hancur. Kehadiran Rasulullah Muhammad Saw di tengah-tengah ummat yang sedang mengalami kemerosotan moral merupakan suatu keniscayaan. Berbekal wahyu ilahi dan kecerdasan spritual serta dukungan berbagai pihak, Rasul berupaya melakukan perubahan yang mendasar yakni “mengembalikan kemuliaan manusia keposisi yang sesungguhnya“, dengan cara yang efektif.

            Dan tentu saja teman-teman, Visi Rasul dalam berdakwah adalah “memanusiakan manusia”. Hal ini dapat difahami dari ungkapan beliau: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Kemuliaan manusia sangat ditentukan dari akhlaknya. Dengan kata lain “akhlak” merupakan tolok ukur untuk tinggi rendahnya atau mulia/hinanya keberadaan seseorang. Lanjut kepada misi, misi Rasulullah Saw adalah “amar ma’ruf nahi mungkar”. Rasulullah Saw mengajak orang-orang untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan larangan. Metoda yang digunakan Rasulullah Saw pun sangat sederhana dan mudah ditiru karena sebelum Rasulullah Saw mengatakan dan atau melakukan sesuatu, terlebih dahulu beliau yang mempraktekkannya

            Nah, itu dia visi-misi panutan kita Rasulullah saw dalam dakwahnya. Hanya dengan akhlak serta amar ma’ruf nahyi munkar. Masyaallah ya, hal tersebut mudah diucapkan namun sulit dilaksanakan. Untuk itu, kedudukan akan visi-misi da’i sekarang dibutuhkan pengembangan sesuai dengan jaman dan sasaran dakwahnya!

Sekian & Terimakasih! 

Wassalam!

Don’t forget _Hadapi_Hayati_Nikmati_

 

 

Dakwah Berbasis Multikulturalisme

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh! Welcome back readers! Today I want tell u the lesson of filsafat dakwah about “dakwah berba...