Selasa, 20 Oktober 2020

transformasi pemikiran dakwah

 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Jumpeu lagi kau bersama sayeu :D

            Sekarang bahas apaan coba? Kemarin sih belajar tentang aliran pemikiran dakwah. Hhmmm, aliran? Ekstrem dong? Ya, dipikiran kita yang namanya aliran itu pasti ekstrem, yang namanya aliran itu keluar dari syariat Islam, menyeleweng lah yaaa.. eits tapi jangan salah tidak semua aliran itu ekstrem lho ya, apalagi aliran pemikiran dakwah, this is not extreme guys.

            Mau tau apa aliran yang dimaksud? Tetap bersama ketikan nnz sambil duduk, sambil rebahan, sambil nyemil, sambil dengerin murotal, MasyaAllah .. nikmat mana lagi yang kau dustakan? Hehe, udah ya malah jadi curhat wkwk.. yo bahas aliran pemikiran dakwah.

            Okey gaes, kita tau ya sekarang itu sudah memasuki era 4.0 bahkan katanya akan dan menuju 5.0 dimana teknologi manusia akan berkurang, beralih ke teknologi sistematis, semua dikendalikan oleh mesin dan robot. Nah hal inilah yang menjadi dampak atau masalah bagi pengembangan kultural di masyarakat, konsep-konsep yang dulu dirumuskan oleh para pakar, oleh para ahlinya kan sekarang siapa yang mengaplikasikannya? Terlebih dalam konsep yang memposisikan mad’u sebagai objek dakwah dan hanya menerima apa yang disampaikan oleh mad’u tanpa adanya unsur timbal balik atau kita sebut bahasa bilogi nya simbiosis mutualisme artinya hubungan yang saling menguntungkan.

            Perkembangan zaman yang demikian ini mempengarui aktivitas dakwah pada umumnya. Pengaruh itu dapat merubah konsep dakwah yang ada, hal ini merujuk pada pola pergeseran strategi pemikiran dan gerakan konsep dakwah yang didasari oleh perkembangan tekonologi dan perkembangan globalisasi. Pada hakikatnya dakwah adalah membangun masyarakat Islam, bukan hanya sekedar mengajak untuk percaya islam, pembangunan yang dimaksud adalah membangun kualitas hidup masyarakat islam menjadi lebih baik dalam berbagai aspek.

            Dalam melaksanakan dakwah, islam tidak mengenal istilah pemaksaaan atasnya. Pemaksaan atau konversi akan menimbulkan peluang konflik agama. Perlu kita sadari dengan adanya konflik didalam agama islam yakni konflik antar aliran yang berbeda didalam agama islam merupakan wujud dakwah konversi. Hal ini didorong oleh rekontruksi konsep dakwah yakni konsep dakwah digital. Banyak karya baik secara audio maupun visual yang kontennya bersifat mengajak. Saya rasa, konsep dakwah secara digital tidak dapat sepenuhnya diterapkan di Indonesia.

            Maka kemudian, perlu adanya lembaga yang mnegkontrol aktivitas dakwah digital di Indoensia, hingga pada akhirnya turunlah beberapa jenis pemikiran dakwah, yaitu: paradigma dakwah kultural, paradigma dakwah struktural, paradigma tabligh, paradigma penngembangan masyarakat, serta paradigma harakah.

            Sekian yang dapat saya ketik kali ini, terimakasih!

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

#Hadapi #Hayati #Nikmati

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dakwah Berbasis Multikulturalisme

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh! Welcome back readers! Today I want tell u the lesson of filsafat dakwah about “dakwah berba...