Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!
Jumpeu lagi kau
bersama sayeu :D
Sekarang bahas apaan coba? Kemarin sih
belajar tentang aliran pemikiran dakwah. Hhmmm, aliran? Ekstrem dong? Ya, dipikiran
kita yang namanya aliran itu pasti ekstrem, yang namanya aliran itu keluar dari
syariat Islam, menyeleweng lah yaaa.. eits tapi jangan salah tidak semua aliran
itu ekstrem lho ya, apalagi aliran pemikiran dakwah, this is not extreme guys.
Mau tau apa aliran yang dimaksud? Tetap
bersama ketikan nnz sambil duduk, sambil rebahan, sambil nyemil, sambil dengerin
murotal, MasyaAllah .. nikmat mana lagi yang kau dustakan? Hehe, udah ya malah
jadi curhat wkwk.. yo bahas aliran pemikiran dakwah.
Okey gaes, kita tau ya sekarang itu
sudah memasuki era 4.0 bahkan katanya akan dan menuju 5.0 dimana teknologi
manusia akan berkurang, beralih ke teknologi sistematis, semua dikendalikan
oleh mesin dan robot. Nah hal inilah yang menjadi dampak atau masalah bagi pengembangan
kultural di masyarakat, konsep-konsep yang dulu dirumuskan oleh para pakar,
oleh para ahlinya kan sekarang siapa yang mengaplikasikannya? Terlebih dalam
konsep yang memposisikan mad’u sebagai objek dakwah dan hanya menerima apa yang
disampaikan oleh mad’u tanpa adanya unsur timbal balik atau kita sebut bahasa
bilogi nya simbiosis mutualisme artinya hubungan yang saling menguntungkan.
Perkembangan zaman yang demikian ini
mempengarui aktivitas dakwah pada umumnya. Pengaruh itu dapat merubah konsep
dakwah yang ada, hal ini merujuk pada pola pergeseran strategi pemikiran dan
gerakan konsep dakwah yang didasari oleh perkembangan tekonologi dan
perkembangan globalisasi. Pada hakikatnya dakwah adalah membangun masyarakat
Islam, bukan hanya sekedar mengajak untuk percaya islam, pembangunan yang
dimaksud adalah membangun kualitas hidup masyarakat islam menjadi lebih baik
dalam berbagai aspek.
Dalam melaksanakan dakwah, islam
tidak mengenal istilah pemaksaaan atasnya. Pemaksaan atau konversi akan
menimbulkan peluang konflik agama. Perlu kita sadari dengan adanya konflik
didalam agama islam yakni konflik antar aliran yang berbeda didalam agama islam
merupakan wujud dakwah konversi. Hal ini didorong oleh rekontruksi konsep
dakwah yakni konsep dakwah digital. Banyak karya baik secara audio maupun
visual yang kontennya bersifat mengajak. Saya rasa, konsep dakwah secara
digital tidak dapat sepenuhnya diterapkan di Indonesia.
Maka kemudian, perlu adanya lembaga
yang mnegkontrol aktivitas dakwah digital di Indoensia, hingga pada akhirnya turunlah
beberapa jenis pemikiran dakwah, yaitu: paradigma dakwah kultural, paradigma dakwah
struktural, paradigma tabligh, paradigma penngembangan masyarakat, serta paradigma
harakah.
Sekian yang dapat saya ketik kali
ini, terimakasih!
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
#Hadapi
#Hayati #Nikmati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar