Senin, 12 Oktober 2020

transfer ilmu yang kau dapat wahai mad'u

 

-Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh-

Hello readers! Kaiff al-hall? – semoga kalian semua yang baca ketikan ini diberikan kesehatan selalu ya sama Allah swt, aamiin.

Kita kemarin belajar apa tuh di matakuliah filsafat dakwah? Masih bahas sasaran dakwah atau bisa kita sebut dengan mad’u yah?

Okey sip, beberapa hari kebelakang tepatnya hari Minggu 11 Oktober 2020 aku berada diposisi mad’u nih .. hehe. Yups! Ada kegiatan webinar yang diisi oleh Habib Husein Ja’far al-Hadar dan juga Pak Fakhruddin Faiz dalam rangka milad UKM Hiqma ke-32.

Karena beliu-beliau adalah da’i nya atau yang memberikan pesan dan juga materi, maka saya sebagai sasaran dakwahnya nih ingin berbagi ilmu-imu yang telah disampaikan oleh beliau hari Minggu kemarin. Di ketikan ini aku bagi dua ya, aku bahas materi yang telah disampaikan oleh Habib Husein dulu baru deh di ketikan blog kedua aku bahas materi yang disampaikan oleh Pak Fakhruddin. Okey! J

___  Yang aku tangkap nih ya dari webinar Habib Husein kemarin, tidak banyak sih karena terkendala oleh sinyal dan juga waktu, hehe.. tapi tidak apa-apa kan “ballighu anni walau aayat” betul? Beliau itu berbicara tentang makna akhlak atau hakikat akhlak dan juga kunci berakhlak. Habib Husein berpesan seperti ini:

“Harus kita tanamkan, akhlak itu bukan hanya etika tapi akhlak bersumber dari hati dan etika tidak harus bersumber  dari hati. Contohnya, kesopanan kita ketika bungkuk terhadap yang lebih tua, banyak orang yang dia hanya ingin dinilai sopan dia hanya bungkuk sekedar informasi belaka dari fisik atau dari badannya, nah berbeda dengan orang yang bungkuk bukan hanya badan yang digerakkan namun hatinya juga ikut merendah. Itulah akhlak yang sempurna.”

“Kita ketahui, seluruh umat Muslim tau bahwa manusia termulia adalah Nabi Muhammad saw. Bagaimana kita mencontoh Rasulullah agar mulia juga atau setidaknya bisa mengikuti akhlaknya? Nah, ketika kita ingin atau bertekad untuk mengimplementasikan akhlak yang ada pada diri Rasulullah kunci utamanya adalah latihan atau dalam tradisi sufistik dinamakan riyadhah. Kita contohkan saya dengan percintaan, tidak akan tercapai suatu kecintaan tanpa latihan, utamakan latihan cinta pada orang yang tidak mencintai kita. Hayoh lho wkwk, itu dia teman jika kita masukan dalam implementasi akhlak pun begitu, harus dibiasakan harus ada riyadhah dan jangan sampai kita menghindari berakhlak kepada orang yang tidak berakhlak kepada kita, jangan malah balas dendam :D, okey!?”

So, teman-teman semua. Jangan pernah berputus asa, mari kita sedikit demi sedikit melatih diri untuk membentuk pribadi yang penuh cinta kasih bukan hanya pada kawan tapi pada lawan dan bukan hanya pada Allah swt saja, tapi kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Sekian & terimakasih! (kita lanjut di blog selanjutnya yah, hehe)

Wassalam!

#Hadapi #Hayati #Nikmati

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dakwah Berbasis Multikulturalisme

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh! Welcome back readers! Today I want tell u the lesson of filsafat dakwah about “dakwah berba...