-Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh-
Masih bahas mad’u nih hehe, part 2 kita sambungkan disini yah!
Di blog sebelumnya aku udah share ilmu yang disampaikan oleh Habib Ja’far kan ya. nah, sekarang waktunya aku share materi yang disampaikan oleh Pak Fakhruddin Faiz, beliau adalah dosen Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Materi beliau lebih condong kepada implementasi Al-Qur’an, menurutnya orang yang memahami Al-Qur’an seperti orang memasuki pada dirinya sesuatu, dalam artian dirinya sebagai wadah. Jika wadahnya kotor maka akan sesutu yang masuk pada wadahnya juga akan kotor dan tidak indah kan? Nah sama seperti kita dalam mengimplementasi Al-Qur’an, kalau diri kita masih kotor masih penuh akan dosa dan kesalahan toh akan susah ya untuk belajar apalagi paham akan Al-Qur’an, harus dibersihkan terlebih dahulu diri kita sebelum bertekad untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an, karena apabila hal itu telah dijalankan tentu jika kita menasihati orang itu tidak akan jauh dari Al-Qur’an. Lalu caranya seperti apa?
Ada 4 prinsip nih teman-teman, apa saja prinsip itu?
1. Prinsip
Tazkiyah (prinsip ini untuk menghilangkan apa yang berbahaya bagi dirinya. Berarti juga dengan
mempercantik dan menghilangkan semua jejak
kejahatan dan penyakit spiritual yang menjadi penghalang dalam mengalami Allah. Dikatakaan juga untuk meningkatkan dan mengembangkan menuju ketinggian
kesempurnaan, dan mengubahnya ke jalan kebajikan dan kesalehan dan
mengembangkannya untuk mencapai tahap kesempurnaan).
2.
Prinsip Waqi’iyyah (Al-waqi’iyyah
berarti realiti dan kebenaran. Ia melibatkan ajaran islam yang bersifat
praktikal sesuai dijadikan amalan di dalam kehidupan manusia. Kemusykilan dan
permasalahan serta persoalan yang berlaku sepanjang proses kehidupan manusia
akan dapat di selesaikan mengikuti kaedah islam bergantung kepada keadaan dan
kesesuaian realiti sebenarnya. Maka islam itu di lihat sebagai fleksibel dalam
menyelesaikan semua kemuskilan yang timbul bergantung kepada keadaan.
3.
Prinsip Muwazzanah (keseimbangan) sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian orang, yaitu
wajib menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang sedang disanggah dan tidak boleh
menyebutkan kesalahan-kesalahannya saja. Namun muwazanah yang dimaksud disini
adalah dalam menghukumi seseorang, apakah termasuk Ahlus Sunnah ataukah ahli
bid’ah, maka harus dibandingkan antara kebaikannya dengan kesalahannya. Jika
seseorang terkenal dengan sikapnya yang mengikuti dalil dan mencintai Sunnah,
kemudian terjatuh dalam satu bid’ah, maka tidak dikatakan bahwa ia adalah
seorang ahli bid’ah, karena kebaikannya yang banyak.
4.
Prinsip Aulawiyyat (melihat porsi
dan
melihat rankingnya) memilih yang lebih utama yang mana. Mana yang nomer satu
mana yang nomer dua dan seterusnya. Contohnya seperti keadaan dan kondisi kita
sebagai mahasiswa. Mana yang akan didahulukan? Belajar terus-menerus di kampus?
Atau berorganisasi? Atau justru menimbang hal percintaan? Wkwk, harus bisa
memilih disini.
Nah itu dia
keempat prinsip dalam aktualisasi atau implementasi Al-Qur’an, sehingga jika
keempat prinsip tersebut diaplikasikan maka Maqhasid dalam Islam akan terwujud.
Islam punya misi, Islam punya tujuan, Islam punya ideal-ideal. Dan itu semua disatukan
dalam sebuah maqasid.
Sekian & terimakasih! (semoga bermanfaat ^^)
Wassalam!
#Hadapi #Hayati #Nikmati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar