Senin, 12 Oktober 2020

Dakwah perlu aktualisasi Al-Qur'an

 -Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh-

Masih bahas mad’u nih hehe, part 2 kita sambungkan disini yah!

    Di blog sebelumnya aku udah share ilmu yang disampaikan oleh Habib Ja’far kan ya. nah, sekarang waktunya aku share materi yang disampaikan oleh Pak Fakhruddin Faiz, beliau adalah dosen Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

    Materi beliau lebih condong kepada implementasi Al-Qur’an, menurutnya orang yang memahami Al-Qur’an seperti orang memasuki pada dirinya sesuatu, dalam artian dirinya sebagai wadah. Jika wadahnya kotor maka akan sesutu yang masuk pada wadahnya juga akan kotor dan tidak indah kan? Nah sama seperti kita dalam mengimplementasi Al-Qur’an, kalau diri kita masih kotor masih penuh akan dosa dan kesalahan toh akan susah ya untuk belajar apalagi paham akan Al-Qur’an, harus dibersihkan terlebih dahulu diri kita sebelum bertekad untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Al-Qur’an, karena apabila hal itu telah dijalankan tentu jika kita menasihati orang itu tidak akan jauh dari Al-Qur’an.  Lalu caranya seperti apa?

Ada 4 prinsip nih teman-teman, apa saja prinsip itu?

1.      Prinsip Tazkiyah (prinsip ini untuk menghilangkan apa yang berbahaya bagi dirinya. Berarti juga dengan  mempercantik dan menghilangkan semua jejak kejahatan dan penyakit spiritual yang menjadi penghalang dalam mengalami Allah. Dikatakaan juga untuk meningkatkan dan mengembangkan menuju ketinggian kesempurnaan, dan mengubahnya ke jalan kebajikan dan kesalehan dan mengembangkannya untuk mencapai tahap kesempurnaan).

2.      Prinsip Waqi’iyyah (Al-waqi’iyyah berarti realiti dan kebenaran. Ia melibatkan ajaran islam yang bersifat praktikal sesuai dijadikan amalan di dalam kehidupan manusia. Kemusykilan dan permasalahan serta persoalan yang berlaku sepanjang proses kehidupan manusia akan dapat di selesaikan mengikuti kaedah islam bergantung kepada keadaan dan kesesuaian realiti sebenarnya. Maka islam itu di lihat sebagai fleksibel dalam menyelesaikan semua kemuskilan yang timbul bergantung kepada keadaan.

3.      Prinsip Muwazzanah (keseimbangan) sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian orang, yaitu wajib menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang sedang disanggah dan tidak boleh menyebutkan kesalahan-kesalahannya saja. Namun muwazanah yang dimaksud disini adalah dalam menghukumi seseorang, apakah termasuk Ahlus Sunnah ataukah ahli bid’ah, maka harus dibandingkan antara kebaikannya dengan kesalahannya. Jika seseorang terkenal dengan sikapnya yang mengikuti dalil dan mencintai Sunnah, kemudian terjatuh dalam satu bid’ah, maka tidak dikatakan bahwa ia adalah seorang ahli bid’ah, karena kebaikannya yang banyak.

4.      Prinsip Aulawiyyat (melihat porsi dan melihat rankingnya) memilih yang lebih utama yang mana. Mana yang nomer satu mana yang nomer dua dan seterusnya. Contohnya seperti keadaan dan kondisi kita sebagai mahasiswa. Mana yang akan didahulukan? Belajar terus-menerus di kampus? Atau berorganisasi? Atau justru menimbang hal percintaan? Wkwk, harus bisa memilih disini.

Nah itu dia keempat prinsip dalam aktualisasi atau implementasi Al-Qur’an, sehingga jika keempat prinsip tersebut diaplikasikan maka Maqhasid dalam Islam akan terwujud. Islam punya misi, Islam punya tujuan, Islam punya ideal-ideal. Dan itu semua disatukan dalam sebuah maqasid.

Sekian & terimakasih! (semoga bermanfaat ^^)

Wassalam!

#Hadapi #Hayati #Nikmati

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dakwah Berbasis Multikulturalisme

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh! Welcome back readers! Today I want tell u the lesson of filsafat dakwah about “dakwah berba...